Memasuki gerbang kota, jangan lewatkan untuk mengabadikan momen di
simpang patung kuda, yang juga menjadi simbol kota penghasil susu kuda
liar ini. Tepat sekali. Bagi para
,
memiliki daya tahan yang tinggi merupakan bekal utama dalam perjalanan,
mengapa tidak menyempatkan diri mencoba langsung gurihnya
ini.
Konon, untuk merasakan manfaat nyata susu kuda liar yang disebut mampu
meningkatkan stamina tubuh ini, disarankan untuk meminumnya ketika umur
susu mencapai lebih dari 4 bulan (
). Rasanya memang
,
tapi disanalah khasiat rahasianya terbukti. Harganya? Jangan ditanya,
yang pasti lebih murah dibanding yang ditawarkan ketika sudah sampai di
Pulau Jawa. Kuda liar sendiri merupakan kuda yang dipelihara untuk
diperah susunya hanya saja para kuda tersebut dibebaskan untuk hidup
bebas di alam liar dan mencari makan sendiri.
Berbatasan dengan Kabupaten Sumbawa dan Teluk Saleh di barat,
Kabupaten Bima di utara dan timur serta Samudera Hindia di selatan, kota
Dompu memiliki menyimpan segudang keindahan di dalamnya, mulai dari
hamparan pasir pantai dengan aliran air lautnya yang memantulkan cahaya
kristal-kristal garam, gagahnya pegunungan yang memikat pendaki untuk
berdatangan, serta pulau-pulau kecil tempat peristirahatan yang
menenangkan batin. Semuanya merupakan pesona yang membuat kita patut
bangga menjadi warga Indonesia. Yuk, mari kita kenali beberapa di
antaranya.
1) GUNUNG TAMBORA
Tinggal dua tahun lagi menjelang perhelatan “Tambora Menyapa Dunia
2015″ yang diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat
(Pemprov NTB) bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, sebuah peringatan dua abad sejak terjadinya letusan Gunung
Tambora pada tahun 1815. Sungguh dunia pernah dibikin terpana oleh
kedahsyatan Yang Kuasa melalui Gunung Tambora ini. Produksi lavanya yang
mencapai 160 km3 menewaskan lebih dari 75 ribu jiwa membuat peristiwa
ini sempat dicatat dalam daftar “
The Largest Eruption in recent History”
(letusan gunung berapi terbesar sepanjang sejarah). Letusan ini membawa
dampak global berupa perubahan iklim di seluruh muka bumi, sejarah
menamakannya “
A Year Without Summer“, dimana suhu global turun
dua derajat menjadikan musim dingin berkepanjangan di seluruh bumi
belahan utara dan menggagalkan seluruh hasil panen dunia. Konon,
disebut-sebut kekalahan Napoleon dari Rusia karena putusnya rantai
logistik akibat letusan puncak tertinggi Sumbawa ini.
Nah,
uniknya, hadirnya “Tambora Menyapa Dunia 2015″ bukanlah sebuah acara
yang terkesan berduka, melainkan berniat mengajak masyarakat global
untuk lebih mengenal Sumbawa; potensi dan pariwisatanya salah satunya
melalui Gunung Tambora, sebagai wisata unggulan Nusa Tenggara Barat
(NTB).
Terletak di dua kabupaten, Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi
selatan sampai barat laut) dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi
selatan hingga barat laut dan kaki hingga puncak sisi timur hingga
utara), gunung yang semulai memiliki ketinggian 4.200m sebelum letusan
dan menjadi 2.850m setelah meletus merupakan salah satu obyek wisata
yang sudah akrab bagi para pendaki gunung ataupun pecinta alam. Walaupun
banyak pendapat mengatakan gunung Tambora cukup ramah bagi pendaki
pemula, tetap saja para
petualang
harus memerlukan persiapan yang matang. Jalur umum untuk melakukan
pendakian biasanya berasal dari Desa Pancasila, desa terakhir yang
dilalui angkutan umum dan berjarak sekitar 5 jam dari Dompu.
Perjalanan menuju puncak Tambora penuh dengan vegetasi padang rumput
yang luas, perkebunan kopi, coklat dan jambu mete. Tidak perlu khawatir
tersesat karena sudah banyak berdiri pos-pos perhentian dengan sumber
air bersih dan shelter untuk beristirahat. Mendekati kawasan bibir
kawah, vegetasi banyak diisi dengan pepohonan cemara, Anda juga
disarankan untuk memakai kacamata hitam untuk melindungi dari terik
matahari dan pasir halus yang beterbangan tertiup angin. Puncak Tambora
2850 mdpl ditandai dengan pondasi beton dan tiang bendera, disanalah
para
petualang bisa menyaksikan keindahan kawah Tambora yang membentang luas.
2) PULAU MOJO
Nanga Tumpu (Teluk Saleh) adalah kawasan yang terdiri dari pulau-pulau kecil yang disebut Nisa meliputi:
Nisa Pudu, Nisa Rate, Nisa Maja, dan
Nisa Kodo.
Adalah Nisa Maja atau Pulau Mojo yang terletak di mulut Teluk Saleh,
sebelah selatan semenanjung Sanggar -semenanjung bentukan Tambora,
merupakan pulau kecil nan eksotis. Pulau ini merupakan kawasan
Konservasi Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut dimana di sekitarnya
dikelilingi oleh terumbu karang yang indah dan merupakan hunian bagi 21
jenis kelelawar, burung, macaque, babi liar, rusa dan ular. Selain itu
juga terdapat 86 spesies burung Sumbawa yang beberapa diantaranya masuk
dalam kategori langka.
 |
Salah satu resort di Pulau Moyo. Sumber |
Tertarik mengunjungi gua kelelawar? Anda bisa menuju g
ua Ai Manis yang harus dicapai dengan sedikit memanjat tebing. Lanjutkan trekking untuk sampai ke tengah pulau, Anda akan berjumpa dengan
Air terjun Brang Rea
(Sungai Besar). Bagi pecinta snorkeling atau menyelam, menyaksikan
keindahan taman laut dengan formasi karang lunak dan keras yang masih
berkeadaan baik merupakan hal yang sayang untuk dilewati. Anda bisa
bertemu langsung dengan hiu dengan panjang kurang lebih dua meter,
anemon, pelagik, belut, groupers bahkan manta, semua ada. Jika ingin
melanjutkan
diving, Anda bisa melakukannya di Pulau Medang, arah barat laut pulau Mojo.
Perjalanan menuju Pulau Moyo cukup mudah, melalui jalan darat dapat
ditempuh dari Sumbawa Besar ke Ai Bari, kampung pesisir yang terletak
sekitar 20 kilometer sebelah utara Sumbawa Besar. Kunjungan terbaik
yaitu pada musim kemarau: bulan Juni-Agustus, tetapi waktu terbaik untuk
berkunjung adalah pada bulan Juni dan Juli meskipun gelombang air laut
mulai tenang dari April. Hanya saja untuk menikmati seluruh rangkaian
keindahan di tempat ini, Anda memerlukan dana yang cukup lumayan. Tidak
salah jika pengunjung pulau ini didominasi oleh kalangan mancanegara,
bahkan mendiang Lady Diana dan musisi Mick Jagger disebut-sebut pernah
beristirahat di sini!
3) DANAU SATONDA
Danau Satonda terletak di tengah pulau Satonda, 3 kilometer dari
semenanjung Sanggar di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini yang mana
masih termasuk wilayah Kabupaten Dompu, NTB. Pencapaiannya dapat
dilakukan dengan perahu cadik bermotor dari desa terdekat, Desa
Nangamiro selama 1 jam.
Asyiknya, jika beruntung Anda bisa
menyaksikan aksi lumba-lumba yang melintasi perairan Laut Flores selama
perjalanan. Keunikan danau ini adalah
rasa airnya yang asin seperti air laut.
Walau banyak yang beranggapan hal ini disebabkan percampuran airnya
dengan air laut saat gunung Tambora meletus, tetap saja banyak peneliti
yang masih bertanya-tanya untuk memastikannya.
 |
| Pulau Satonda dari udara. Sumber |
Pada tepian danau Satonda sendiri banyak ditemukan sebaran luas
terumbu gampingan stromatolit (batuan berlapis yang dibentuk dari
penggabungan sedimen mineral menjadi hamparan mikroba), organisme
pertama di bumi yang menghembuskan oksigen. Adanya stromatolit di
Satonda menjadi sangat menarik dan fenomenal karena di masa sekarang
tidak pernah dijumpai lagi perkembangannya, menunjukkan danau ini
memiliki lingkungan yang menyerupai lautan purba.
Di Pulau Satonda sendiri, para
petualang juga bisa melakukan aksi
snorkelingnya,
karena memang pulau ini telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut
(TWAL) pada tahun 1999. Dengan hamparan pasir putih, pulau ini memiliki
dasar perairan yang landai di bagian timur dan selatan, serta curam di
bagian utara dan barat. Kawasan ini terbukti memiliki potensi kekayaan
dan keindahan bawah laut.
4) PANTAI LAKEY
 |
| Left-Hander wave di Pantai Lakey. Sumber. |
Lagi-lagi pantai, pasti begitu pendapat Anda. Tunggu dulu,
pantai yang satu ini spesial! Pantai yang terletak di kecamata Hu’u ini
berjarak sekitar 30 menit dari kota Dompu ini sudah dikenal di mata
dunia sebagai salah satu tempat para peselancar dunia berkompetisi
karena gulungan ombaknya yang konsisten tidak terpengaruh musim.
Walaupun ombaknya terbilang tidak terlalu tinggi (sekitar 6-8 meter)
tapi keunikannya terletak pada sapuan arah ombaknya yang dari kiri ke
kanan -atau lebih dikenal dengan ombak kidal/
left hander wave,
yang membuat para peselancar dunia tertantang untuk menguji kemampuannya
dalam menaklukkan ombak ini. Ombak di pantai Lakey terdapat empat
jenis;
Lakey Peak (yang terhebat dan tertinggi),
Cobble Stones,
Lakey Pipe dan
Periscope.
Tidak bisa berselancar? Anda bisa mencoba berenang menuju lepas
pantai sambil tentunya berhati-hati dengan kegarangan ombaknya dan batu
karang di sekitaran pantai. Anda bisa juga snorkeling melihat keindahan
taman laut karena air lautnya masih tergolong bersih dengan banyaknya
terumbu karang. Kegiatan lainnya adalah berjalan-jalan di sekitar garis
pantai menuju bukit mengunjungi goa peninggalan Jepang sambil memandangi
pemandangan pantai. Di sana juga bisa ditemui
Situs Nangasia, sebuah situs bersejarah yang menandai kemjuan peradaban Dompu sejak tahun 4.500 sebelum Masehi. Lalu juga ada obyek wisata
Air Panas Lamea serta
Kampung Purna sebagai kampung tertua penduduk asli Dompu
Kegiatan memancing juga dapat dilakukan dengan menggunakan perahu
sewaan. Sambil mengarungi perairan di sekitar Pantai Lakey, Anda dapat
singgah di sebuah pantai kecil lainnya tepat di seberang pantai Lakey.
Pantai Ria,
namanya, dengan pasir pantai yang kehitam-hitaman Anda penyuka
fotografi dapat menikmati pantai Lakey dari sudut pandang yang berbeda.
Selain keempat tempat yang saya sebutkan di atas, masih banyak lagi
kawasan menarik di kabupaten Dompu yang tentunya juga sebaiknya tidak
dilewatkan jika rekan
petualang memiliki waktu yang lebih: pemandian air panas
Nanga Doro, hutan lindung
Mada Prama, kota penghasil kayu
Calabai, dan masih banyak lagi.
Mengenal Kebudayaan dan Penduduk Dompu
 |
Rimpu, pakaian tradisional kaum wanita Dompu. Sumber. |
Suku Dompu tersebar di 4 kecamatan, yakni kecamatan Huu, kecamatan
Dompu, kecamatan Kempo dan kecamatan Kilo. Mereka berkomunikasi
sehari-hari menggunakan bahasa Dompu yang kadang disebut juga sebagai
bahasa Nggahi Mbojo. Menurut cerita asal-usul Dompu, dahulu kala di
daerah ini merupakan salah satu daerah bekas kerajaan, yaitu Kerajaan
Dompu yang kemudian diperkirakan merupakan salah satu kerajaan tua.
Suku Dompu memiliki bangunan rumah tradisional, yaitu
Uma Jompa dan
Uma Panggu.
Uma Jompa berfungsi sebagai lumbung padi. Sedangkan Uma Panggu adalah
rumah yang terbuat dari kayu atau papan dan berbentuk panggung.
Berdasarkan konstruksinya, Uma panggu dibedakan menjadi dua jenis.
Pertama, Uma Ceko yang merupakan rumah asli Dompu, kedua, Uma Pa’a
Sakolo yang dibawa masyarakat migran Bugis yang dibangun di daerah
pesisir
Salah satu kerajinan budaya, yang terkenal dari Dompu, adalah kain tenun
Muna, yaitu kain songket Dompu atau
Tembe Nggoli.
Walaupun produksinya terkesan sama seperti Lombok dan Sumbawa, namun
nilai budaya yang terkandung di dalamnya sangat tinggi dan terus
turun-temurun antar generasi. Setiap perempuan Dompu wajib untuk bisa
menenun dan tiap rumah wajib mempunyai perangkat alat tenun. Kain tenun
Dompu ini sudah terkenal karena keindahan dan kehalusan kainnya jadi
jangan lupa sisihkan dana Anda untuk membawanya sebagai oleh-oleh.
Tradisi upacara adat juga masih sering ditemui di wilayah penduduk asli Dompu, misalnya dalam upacara perkawinan
Nika Ra Nako (perkawinan untuk rakyat biasa) dan
Campo ra kaboro (perkawinan bagi kaum bangsawan) terdapat
Teka Ra Ne’e (kegiatan menumbuk padi secara beramai-ramai ditempat berlangsungnya perkawinan,
Kapanca (yaitu upacara memberi rias titik-titik putih atau hitam pada dahi dan telapak tangan pengantin wanita),
Lafa (akad nikah yang menurut faham dan anutan masyarakat Dompu),
Nenggu (menunggu kedatangan suami untuk duduk bersanding),
Tawori ro Pamaco (pemberian selamat disertai hadiah). Untuk upacara kehamilan juga ada
Salama Loko (membetulkan letak bayi untuk usia kandung 7-8 bulan,
Cafi Sari (membersihkan lantai dari bekas-bekas persalinan), setelah proses kelahiran akan diadakan
Boru (mencukur rambut bayi dengan mencukur rambutnya dan menyentuhkannya dengan tanah,
Suna Ra Ndoso (acara sunatan bagi seorang anak), dan masih banyak lagi. Jika berkesempatan mungkin para
petualang bisa ikut menyaksikannya.
Penduduk Dompu juga masih taat dalam mengenakan pakaian adat mereka
di tengah kehidupan sehari-hari. Untuk wanita, mengenakan celana panjang
sampai pangkal betis, baju kuru lengan panjang. Ketika keluar rumah
memakai tenunan
tembe nggoli atau
tembe bali mpida dan
to’du me’e. Pada saat menghadiri acara maka biasanya memakai
Rimpu.
Rimpu sendiri terdiri atas dua macam, yaitu:
Rimpu Colo, untuk wanita yang sudah menikah dan
Rimpu Mpida untuk wanita yang masih gadis atau remaja. Pakaian kaum laki-laki cenderung lebih sederhana yaitu memakai
katente tembe seperti model celana pendek dari kain, badan diselubungkan dengan
weri ditambah
sambolo.
Pakaian ini biasanya dipakai ketika ke sawah, ke gunung dan
kesehariannya. Seiring perkembangan mereka mulai mengenakan baju koko,
tembe dan sarowa dondo (
sumber).
Budaya lainnya yang lekat dengan masyarakat Dompu adalah Pacuan Kuda ala Dompu,
Pacoa Jara,
di mana puluhan joki cilik berusia lima tahun sudah berani berkompetisi
balap dengan kuda jagoan mereka. Kegiatan ini biasanya dilakukan di
Arena Pacuan Kuda Tradisional, Desa Lepadi, yang terletak sekitar 5km di
bagian selatan kota Dompu tapi seringkali juga diadakan di pantai
Lakey. Seru, ya?
Jika Anda menginginkan bentuk kebudayaan lain yang mencerminkan
keindahan dan keanggunan, beberapa tarian khas Dompu bisa menjadi
hiburan tersendiri, seperti
Tari Sampela Ma Rimpu, yang menceritakan sampela Dompu yang hendak pergi mandi ke suatu telaga dengan rimpu kain yang berwarna warni, lalu
Tari Mama Ra Isi, menceritakan gadis-gadis Dompu mempersiapkan mama ra isi menjelang kedatangan tamu, juga tak kalah menariknya
Tari Muna Ra Medi,
yang mengisahkan cara menenun mulai dari proses pembersihan kapas
kemudian membuat benang dari kapas hingga menjadi selembar kain,
mencerminkan gadis-gadis Dompu yang senantiasa mempertahankan,
mengembangakan, melestarikan dan mempromosikan hasil tenun.
Ayo ke Dompu!
Nah, kira-kira itulah sebagian pesona penuh potensi yang
dimiliki Kota Dompu yang bisa saya bagikan melalui tulisan ini.
Bagaimana, apa Anda tertarik untuk ikut ber
petualang
juga? Menulis tulisan ini benar-benar semakin membuka mata saya bahwa
keindahan alam Indonesia hampir tersebar di seluruh penjuru negeri!
Bukan hanya di pulau-pulau besar utama Indonesia, tapi siapa yang
mengira, di sebuah kota yang hanya seluas 2.321,55 km2 dan
berpenduduk 218.973 jiwa (2010) ini menyimpan begitu banyak rahasia
pesona yang bahkan bagi orang Indonesia sendiri masih terkesan asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar